Selasa, 04 Juni 2013

Kuil siks di Malaisya


Pada saat itu adalah jam makan siang dan Rajinder Kaur, 66 tahun, sedang makan makanan vegetarian terdiri dari nasi berbumbu, kulit tahu dan kacang-kacangan di aula makan di Gurdwara Tatt Khalsa Diwan. Santap siang gratis dan setiap orang, tanpa mempedulikan agama, ras atau tingkat sosial, disambut dengan baik. Sekitar 200 orang datang setiap harinya. Pada hari perayaan, aula itu dapat menampung hingga 1.000 orang.
  • Seorang penganut Sikh berdoa di Gurdwara Tatt Khalsa Diwan di Jalan Raja Alang di Kuala Lumpur. Kegiatan tidak sibuk pada hari kerja tetapi pada hari Minggu khususnya, pelajaran musik dan yoga menjadikan tempat itu begitu hidup. [Photo oleh Grace Chen/Khabar] Seorang penganut Sikh berdoa di Gurdwara Tatt Khalsa Diwan di Jalan Raja Alang di Kuala Lumpur. Kegiatan tidak sibuk pada hari kerja tetapi pada hari Minggu khususnya, pelajaran musik dan yoga menjadikan tempat itu begitu hidup. [Photo oleh Grace Chen/Khabar]
  • Gurdwara Tatt Khalsa Diwan merupakan rumah ibadah terbesar bagi umat Sikh di Asia Tenggara. Gurdwara Tatt Khalsa Diwan merupakan rumah ibadah terbesar bagi umat Sikh di Asia Tenggara.
Namun Rajinder tidak datang demi makanan gratis.
Setelah kehilangan suaminya karena serangan jantung sembilan tahun yang lalu, dia datang ke kuil Sikh terbesar di Asia Tenggara itu untuk mencari kedamaian. Almarhum suami Rajinder dulu menjadi relawan di dapur itu.
"Di masa di mana setiap orang berpikir untuk mencari uang, inilah tempat satu-satunya di mana saya bisa merasa tenang dan tidak terburu-buru," kata Rajinder.
Jeswant Singh Sran, ketua keamanan di lapangan pakir mobil gurdwara, telah bekerja di sana selama sepuluh tahun. Dia menyumbangkan teh untuk doa pagi antara pukul 5 dan 7 pagi, memastikan daerah itu bebas dari pecandu narkoba, dan menyambut para pendatang dengan kata-kata jenaka.
"Sayalah 'satu-satunya 'Singh di dunia ini', dibuktikan oleh nama saya, Jeswant. Apa nama panggilan pria yang suka berendam di kolam dingin yang dalam? Kuldeep," kata mantan perwira polisi itu.
Jeswant menyatakan ada tiga gurdwara lain yang terletak dalam radius lima kilometer, termasuk satu di akademi polisi di Jalan Semarak, dan satu lagi di pos polisi Jalan Bandar.
"Banyak kaum Sikh dari generasi pertama direkrut dalam angkatan bersenjata. Kehadiran gurdwara ini menjaga mereka agar teguh memegang kewajiban," kata Jeswant, yang bergabung dengan angkatan bersenjata saat muda.
Berdiri seperti pengawal di perbatasan pasar Kampung Baru di Chow Kit, gurdwara ini merupakan sinar dalam komunitas Sikh, baik lokal maupun asing. Para pekerja asing yang bekerja di perusahaan setempat mencakup 30% jumlah jemaat. Mereka datang untuk menjadi relawan dan mendapat kenyamanan dalam persahabatan bersaudara mereka.
Akar dari gurdwara dapat dilacak hingga tahun 1819, ke situs aslinya di mana Rumah Sakit Umum Kuala Lumpur sekarang ini berdiri.
Menurut Sujit Singh Gill, 80 tahun, bendahara gurdwara selama sembilan tahun, pemerintah Inggris secara resmi mengalokasikan tempat itu bagi komunitas Sikh di Jalan Raja Alang pada tahun 1922.
Dahulu melayani komunitas Sikh dari daerah Setapak dan Sentul pada tahun 1920-an, jemaat yang sekarang ini membesar dan termasuk para pengusaha yang bekerja di Jalan Tuanku Abdul Rahman pada tahun 1960-an.
Surat kabar Malaya Samachar, yang seluruhnya dicetak dalam bahasa Punjabi tiga kali seminggu, dengan 500 eksemplar setiap edisinya, bermarkas di kompleks ini.
Lima belas ruangan tersedia untuk menampung kaum miskin atau pelancong kelas melati untuk sementara waktu, namun demikian komite gurdwara berhati-hati memilih siapa yang mereka tampung demi alasan keamanan.
Pembangunan dua bangunan kuil itu, yang berdiri di atas tanah seluas 1,5 akre di tengah-tengah daerah perdagangan yang prima, sepenuhnya didanai oleh para anggota gurdwara.
"Para anggotalah yang telah memastikan keberadaan gurdwara sejauh ini," kata Sujit, yang menambahkan mereka memiliki 600 anggota seumur hidup yang menyumbang RM 100 ($33) ke dalam dana gurdwara setiap tahunnya.
Akan tetapi, Sujit, sang bendahara, merasa kejayaan gurdwara telah menurun.
Sebuah sekolah agama memiliki 500 murid dan 20 guru pada tahun 1970-an tetapi harus tutup karena kekurangan murid. Lalu lintas kota yang macet, mengubah perjalanan sepanjang lima menit menjadi dua jam yang lambat, tidak memungkinkan para murid untuk datang ke sekolah tepat waktu.
Gurdip Singh, asisten Sujit, berkata hal ini disebabkan perubahan zaman. Namun demikian sementara keadaan sepi pada hari kerja, kompleks ini ramai di akhir pekan. Pada hari Minggu, anak-anak datang untuk menghadiri pelajaran agama dan kelas-kelas yoga serta musik.
"Penduduk masih datang kemari untuk berdoa di pagi dan malam hari. Kami masih mengadakan perayaan. Hanya ada beberapa hari kosong dalam jadwal bulanan kami dan kami masih melayani kebutuhan masyarakat seperti upacara pernikahan dan misa arwah. Ini adalah pertanda baik," kata Gurdip.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar